
Kerinci, 15 Februari 2026 – Suasana MIN 1 Kerinci tampak berbeda dari biasanya. Gelak tawa, sorakan semangat, dan langkah-langkah kecil yang berlari penuh keceriaan memenuhi udara pagi. Hari itu, siswa dan guru bersama-sama memainkan permainan tradisional bentengan dan kucing-kucingan—dua permainan rakyat yang kini mulai jarang terlihat di tengah derasnya arus permainan digital.
Dengan penuh antusias, siswa membagi diri menjadi beberapa kelompok untuk bermain bentengan. Mereka menjaga “benteng” masing-masing sambil menyusun strategi menyerang dan bertahan. Sementara itu, di sisi lain lapangan, permainan kucing-kucingan berlangsung tak kalah seru. Seorang siswa yang menjadi “kucing” berusaha mengejar teman-temannya yang berlari lincah menghindari sentuhan.
Yang membuat kegiatan ini semakin istimewa, para guru turut ambil bagian. Kehadiran guru di tengah permainan bukan hanya menambah semangat, tetapi juga mempererat hubungan emosional antara pendidik dan peserta didik. Tawa riang pun pecah saat guru ikut berlari dan berstrategi bersama siswa.
Kepala MIN 1 Kerinci, Hasminiyeti.S,S.Ag., M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya madrasah dalam melestarikan budaya bangsa sekaligus membangun karakter siswa.
“Permainan tradisional bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada nilai kerja sama, sportivitas, kejujuran, dan semangat kebersamaan. Kami ingin anak-anak mengenal dan mencintai warisan budaya Nusantara sejak dini,” ujarnya.
Menurut beliau, di era modern saat ini, anak-anak cenderung lebih akrab dengan gawai dan permainan daring. Karena itu, madrasah merasa perlu menghadirkan kembali permainan tradisional agar siswa tetap memiliki keseimbangan antara perkembangan teknologi dan pelestarian budaya.
Selain melatih ketangkasan dan kekuatan fisik, permainan bentengan mengajarkan strategi dan kekompakan tim. Sementara kucing-kucingan melatih kecepatan, fokus, dan keberanian mengambil keputusan. Semua nilai tersebut sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda yang tangguh dan berakhlak mulia.
Kegiatan ini pun mendapat sambutan hangat dari para siswa. Mereka mengaku sangat senang bisa bermain bersama teman dan guru di lapangan terbuka. Beberapa siswa bahkan mengatakan ingin kegiatan serupa diadakan secara rutin.
Melalui kegiatan sederhana namun sarat makna ini, MIN 1 Kerinci membuktikan bahwa menjaga warisan budaya tidak harus dengan cara yang rumit. Cukup dengan menghadirkan kembali permainan tradisional di tengah kehidupan sekolah, nilai-nilai luhur bangsa dapat terus hidup dan tumbuh dalam diri generasi penerus.
Semangat berlari, tawa yang lepas, dan kebersamaan yang terjalin hari itu menjadi bukti bahwa bentengan dan kucing-kucingan bukan sekadar permainan masa lalu—melainkan jembatan yang menghubungkan tradisi dengan masa depan.
|
86x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...