
Kerinci, 21 Juni 2026 -MIN 1 Kerinci kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan pendidikan karakter siswa melalui pengenalan cerita rakyat daerah yang sarat nilai moral. Salah satu kisah yang diangkat adalah legenda "Batu Tangkut" yang berasal dari Dusun di wilayah Kerinci, Provinsi Jambi.
Cerita rakyat ini mengisahkan kehidupan sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari seorang ayah bernama Kasri, seorang ibu bernama Ratna, serta anak semata wayang mereka bernama Puti Intan. Sejak kecil, Puti hidup dalam kondisi yang penuh kasih sayang, namun cenderung dimanjakan oleh orang tuanya.
Karena terlalu dimanjakan, Puti tumbuh menjadi anak yang kurang disiplin. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman-temannya, sementara pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah lebih sering dikerjakan oleh ibunya.
Sikap tersebut membuat Puti semakin malas dan tidak terbiasa membantu orang tua. Bahkan, ia juga digambarkan mulai mengabaikan kewajiban ibadah dan pendidikan agama seperti belajar mengaji di surau.
Suatu hari, ketika ayah dan ibunya hendak pergi ke sawah untuk bekerja, sang ibu berpesan kepada Puti agar membantu menyiapkan makanan dan mengangkat jemuran karena cuaca diperkirakan akan turun hujan pada siang hari. Namun pesan tersebut kembali diabaikan oleh Puti yang lebih memilih melanjutkan tidurnya.
Setelah orang tuanya berangkat ke sawah, Puti menghabiskan waktu dengan bermain bersama teman-temannya. Rumah yang awalnya bersih berubah menjadi berantakan karena aktivitas bermain yang tidak terkontrol, sementara tanggung jawab yang diberikan tidak dijalankan sama sekali.
Ketika waktu berlalu hingga siang hari, langit mulai gelap dan hujan turun dengan deras. Ayah dan ibunya pulang dalam keadaan lelah, basah kuyup, dan lapar setelah bekerja di sawah. Harapan untuk disambut dengan makanan hangat dan rumah yang rapi tidak mereka temukan.
Kekecewaan orang tua semakin besar ketika mereka melihat rumah dalam keadaan kacau, jemuran basah kembali, serta tidak ada makanan yang tersedia. Kondisi ini memperlihatkan puncak dari kelalaian Puti dalam menjalankan tanggung jawab di rumah.
Dalam kondisi tersebut, terjadi pertengkaran kecil antara Puti dan orang tuanya. Puti tetap menunjukkan sikap tidak menghormati, bahkan menolak perintah ibunya dan menganggap dirinya lebih berkuasa di rumah. Hal ini membuat suasana keluarga menjadi sangat tegang.
Pada hari lain, ketika Puti dan ibunya pergi ke sungai untuk mencuci pakaian, kejadian buruk kembali terjadi. Ibunya terjatuh di dekat sebuah batu besar, namun Puti tidak menunjukkan empati dan justru bersikap kasar karena lebih mementingkan pakaian miliknya yang berserakan.
Dalam versi legenda masyarakat, dari peristiwa di dekat sungai inilah muncul kisah "Batu Tangkut". Batu besar tersebut digambarkan memiliki kekuatan gaib yang kemudian Menelan Puti sebagai bentuk hukuman atas sikap durhaka kepada orang tua.
Setelah kejadian tersebut, masyarakat setempat meyakini bahwa batu tersebut masih ada hingga sekarang dan dikenal sebagai Batu Tangkut. Kisah ini kemudian menjadi bagian dari cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai pengingat moral.
Selain itu, masyarakat Dusun Kerinci sering menjadikan kisah ini sebagai bahan nasihat kepada anak-anak agar selalu berbakti kepada orang tua, menghormati mereka, dan tidak bersikap sombong dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Madrasah MIN 1 Kerinci, Ibu Hasminiyeti, S.S.Ag., M.Pd., dalam penyampaiannya menegaskan bahwa kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai media pembelajaran karakter agar siswa memahami pentingnya tanggung jawab, disiplin, serta bakti kepada orang tua.
Beliau juga menambahkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat seperti "Batu Tangkut"sangat relevan dalam membentuk karakter peserta didik di era sekarang, di mana tantangan moral dan kedisiplinan semakin kompleks.
Melalui kegiatan ini, MIN 1 Kerinci berharap siswa dapat mengambil pelajaran bahwa kasih sayang orang tua harus dibalas dengan sikap hormat dan ketaatan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bagian dari pembentukan karakter islami yang kuat di lingkungan madrasah maupun di rumah.
"Sumber Cerita"
Balai Bahasa Provinsi Jambi. Cerita Rakyat Daerah Jambi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kerinci. Dokumentasi Cerita Rakyat Kerinci.
Ensiklopedia Folklor Indonesia (Melayu Sumatera - motif anak durhaka).
Penulis/Editor : Ari S Wardana
|
205x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...