
Di sebuah rumah sederhana, hiduplah seorang anak bernama Rafi. Ia adalah siswa kelas tiga madrasah yang cerdas dan ramah. Namun, Rafi memiliki satu kebiasaan yang kurang baik, yaitu sering bangun terlambat.
Akibatnya, ia sering terburu-buru saat bersiap ke sekolah. Kadang-kadang ia lupa merapikan tempat tidur, tidak sempat sarapan, bahkan pernah terlambat mengikuti apel pagi di madrasah.
Di sudut kamarnya, terdapat sepasang sepatu hitam yang selalu dipakainya ke sekolah. Sepatu itu selalu dibersihkan oleh ayah setiap hari Jumat, sehingga tampak mengilap dan rapi.
Suatu malam, ketika Rafi tertidur lelap, terjadi sesuatu yang ajaib.
Sepatu sebelah kanan berkata pelan kepada temannya.
"Aku ingin sekali berangkat ke madrasah lebih awal."
Sepatu sebelah kiri mengangguk.
"Aku juga. Rasanya sedih kalau setiap pagi kita dipakai sambil berlari-lari karena Rafi bangun kesiangan."
Keesokan paginya, Rafi kembali bangun terlambat. Dengan tergesa-gesa ia mengenakan kedua sepatunya.
Saat sedang mengikat tali sepatu, tiba-tiba ia mendengar suara lembut.
"Rafi..."
Anak itu terkejut.
"Siapa yang memanggilku?"
"Kami, sepatumu."
Rafi mengusap matanya karena tidak percaya.
"Benarkah kalian bisa berbicara?"
"Tentu," jawab sepatu sebelah kanan. "Kami ingin mengantarmu ke madrasah dengan tenang, bukan dengan tergesa-gesa."
Sepatu sebelah kiri menambahkan, "Kalau kamu bangun lebih pagi, kamu bisa salat Subuh tepat waktu, membantu Ibu menyiapkan perlengkapan sekolah, sarapan dengan tenang, lalu berangkat ke madrasah tanpa terburu-buru."
Rafi terdiam. Ia menyadari bahwa selama ini keterlambatannya membuat banyak orang ikut repot.
Sejak hari itu, Rafi memutuskan untuk berubah. Setiap malam ia menyiapkan seragam, buku pelajaran, topi, dan sepatunya sebelum tidur. Ia juga memasang alarm agar bangun lebih awal.
Pagi berikutnya, alarm berbunyi sebelum azan Subuh selesai. Rafi segera bangun, berwudu, lalu salat bersama ayahnya.
Setelah itu, ia membantu Ibu menyapu halaman, sarapan bersama keluarga, dan mengenakan seragam dengan rapi.
Ketika memakai sepatunya, ia tersenyum.
"Ayo, Sahabatku. Hari ini kita berangkat lebih awal."
Kedua sepatu itu seolah ikut tersenyum.
Sesampainya di madrasah, Rafi tiba sebelum bel berbunyi. Ia sempat menyapa guru, berjabat tangan, membaca doa pagi, dan mengikuti apel dengan tertib.
Guru kelas memperhatikan perubahan Rafi.
"Alhamdulillah, sekarang Rafi selalu datang tepat waktu. Semoga menjadi contoh bagi teman-temannya."
Rafi merasa bangga, bukan karena dipuji, tetapi karena ia telah belajar menghargai waktu.
Sejak saat itu, kedua sepatunya selalu tampak bersih dan siap mengantarnya menuju berbagai kebaikan. Rafi pun mengerti bahwa disiplin dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Pesan Moral
Menghargai waktu adalah salah satu sikap yang dicintai Allah SWT. Anak yang disiplin akan lebih mudah meraih keberhasilan, dipercaya oleh orang lain, dan mampu menjalankan setiap amanah dengan baik. Mulailah membiasakan bangun pagi, salat tepat waktu, mempersiapkan perlengkapan sekolah, dan datang tepat waktu agar hari-hari kita dipenuhi keberkahan.
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(QS. Al-'Ashr: 1–3)
|
216x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...