
KERINCI,9 agustus 2028 – Di balik keindahan alam Kerinci tersimpan kisah perjuangan besar melawan penjajahan Belanda. Salah satu tokoh yang terus dikenang adalah **Mohammad Kasib atau Depati Parbo**, pemimpin adat sekaligus pejuang yang berdiri bersama masyarakat mempertahankan Bumi Sakti Alam Kerinci.
Kisah Depati Parbo menjadi bagian penting sejarah lokal yang patut dikenalkan kepada peserta didik **MIN 1 Kerinci**. Dari perjuangannya, generasi muda dapat belajar tentang keberanian, persatuan, semangat menuntut ilmu, pengorbanan, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran.
Depati Parbo memiliki nama asli **Mohammad Kasib** dan lahir pada tahun 1839. Sejak muda, ia dikenal gemar mencari ilmu. Kasib mempelajari agama, adat, serta berbagai pengetahuan dengan mendatangi para guru, termasuk melakukan perjalanan ke Tanjung Tanah di kawasan Danau Kerinci dan Bangko.

Pengetahuan dan kemampuannya memahami adat membuat Kasib dihormati masyarakat. Ia kemudian memperoleh gelar **Depati Parbo**, salah satu gelar adat penting dalam masyarakat Kerinci.
## Belanda Masuk, Kerinci Melawan
Pada awal 1903, pasukan kolonial Belanda mulai berusaha memasuki wilayah Kerinci. Namun, kedatangan mereka mendapat perlawanan sengit.
Di **Renah Manjuto**, Kerinci bagian selatan, sekitar 30 hulubalang yang dipimpin Depati Parbo menghadapi pasukan Belanda. Pertempuran tersebut membuat pasukan kolonial mengalami kerugian hingga akhirnya mundur ke arah Muko-Muko dan Bengkulu.
Ketika memimpin perlawanan itu, usia Depati Parbo telah mencapai sekitar **64 tahun**.
Belanda kemudian meningkatkan kekuatan dan berusaha memasuki Kerinci melalui tiga arah, yakni **Indrapura, Muko-Muko, dan Jambi**. Pasukan dari arah Jambi bergerak menuju Batang Merangin, Pulau Sangkar, dan Sanggaran Agung. Sementara pasukan dari Muko-Muko dan Indrapura bergerak menuju Sungai Penuh, Rawang, Semurup, hingga Siulak.
Di tengah tekanan tersebut, Depati Parbo terus bergerak mengelilingi Kerinci untuk membangkitkan semangat masyarakat agar tetap bersatu melawan penjajahan.
## Pertempuran Sengit di Pulau Tengah
Salah satu perlawanan besar terjadi di **Pulau Tengah**. Pada pertengahan 1903, pasukan Belanda mulai menggempur wilayah tersebut.
Masyarakat memberikan perlawanan di bawah pimpinan **Haji Ismael dan Haji Saleh**. Serangan Belanda terjadi berulang kali, tetapi masyarakat tetap bertahan.
Pertempuran berlangsung selama berbulan-bulan. Pada akhir 1903, setelah sekitar enam bulan perjuangan, Haji Saleh gugur dan Pulau Tengah akhirnya berhasil dikuasai Belanda.
Jatuhnya Pulau Tengah kemudian membuka jalan bagi pasukan kolonial untuk menyerang **Lolo Kecil**, salah satu pusat perjuangan Depati Parbo.

## Keris dan Tombak Melawan Senjata Belanda
Pertempuran di Lolo berlangsung sangat sengit. Pasukan Belanda memiliki persenjataan yang lebih modern, sedangkan para pejuang Kerinci banyak menggunakan senjata tradisional seperti **keris, pedang, dan tombak**.
Namun, keterbatasan persenjataan tidak memadamkan semangat perjuangan.
Dalam kisah Perang Kerinci juga dikenal seorang perempuan bernama **Fatimah**. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, Fatimah ikut mempertahankan pintu pertahanan dan berani menghadapi pasukan Belanda sebelum akhirnya gugur terkena tembakan.
Ketika tekanan kolonial semakin kuat, Depati Parbo dan pasukannya meninggalkan posisi pertahanan dan melanjutkan perjuangan melalui **perang gerilya**.
Belanda menyadari bahwa selama Depati Parbo belum tertangkap, perlawanan masyarakat Kerinci belum benar-benar berakhir.
## Ditangkap dengan Siasat
Belanda kemudian menggunakan cara lain untuk menghentikan perjuangan Depati Parbo. Ia diminta turun untuk melakukan perundingan, tetapi sempat tidak memenuhi permintaan tersebut.
Tekanan kemudian diarahkan kepada keluarganya. Demi keselamatan keluarga, Depati Parbo akhirnya turun.
Namun, perundingan yang diharapkan tidak pernah terjadi.
Depati Parbo justru **ditangkap dan diborgol**, kemudian dibuang jauh dari tanah kelahirannya menuju **Ternate, Maluku**.
Ia menjalani masa pembuangan selama kurang lebih **22 tahun**. Dalam masa pengasingan, Depati Parbo juga dikenal memiliki kemampuan pengobatan dan membantu masyarakat di tempat pembuangannya.
Pada tahun **1926**, Depati Parbo akhirnya diperbolehkan kembali ke Kerinci. Kepulangannya disambut masyarakat sebagai seorang pejuang yang telah mempertahankan tanah kelahirannya dari penjajahan.
Setahun kemudian, pada **1927**, Depati Parbo berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekitar dua tahun setelah kembali dari Tanah Suci, ia meninggal dunia dalam usia sekitar **90 tahun**.

## Pelajaran Berharga bagi Siswa MIN 1 Kerinci
Kisah Depati Parbo tidak seharusnya berhenti sebagai cerita masa lalu. Bagi peserta didik **MIN 1 Kerinci**, perjuangannya dapat menjadi pembelajaran untuk mengenal sejarah daerah sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap tanah kelahiran.
Depati Parbo menunjukkan bahwa perjuangan membutuhkan **keberanian, ilmu pengetahuan, persatuan, keteguhan, tanggung jawab, dan pengorbanan**.
Ia bukan hanya seorang pejuang, tetapi juga tokoh yang sejak muda memiliki semangat tinggi mencari ilmu. Hal tersebut menjadi pesan bagi generasi sekarang bahwa mencintai daerah tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah, tetapi juga dengan belajar, berkarya, menjaga budaya, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui pengenalan sejarah lokal seperti kisah **Depati Parbo dan Perang Kerinci**, MIN 1 Kerinci mengajak peserta didik memahami bahwa tanah tempat mereka tumbuh memiliki sejarah perjuangan yang besar.
**Kerinci bukan hanya terkenal karena keindahan alamnya. Di tanah ini juga pernah berdiri para pejuang yang berani mempertahankan negeri, harga diri, dan martabat masyarakatnya.**
Penulis/Editor : Ari S Wardana
|
210x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...