
Kerinci, 25 Agustus 2026 — Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi kesempatan berharga bagi keluarga besar MIN 1 Kerinci untuk mengajak peserta didik mengenal lebih dekat perjalanan hidup Rasulullah SAW sejak masa kelahirannya. Tidak hanya mempelajari sejarah, siswa juga diajak memahami nilai-nilai keteladanan dan hikmah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah dari keluarga Bani Hasyim, suku Quraisy, sekitar tahun 570–571 M. Dalam tradisi Islam, tahun kelahiran beliau dikenal sebagai Tahun Gajah atau ‘Am al-Fil. Tanggal 12 Rabiul Awal menjadi tanggal yang paling luas diperingati umat Islam sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Ayah Rasulullah SAW bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan ibunya adalah Aminah binti Wahab. Abdullah wafat sebelum Nabi Muhammad SAW lahir sehingga beliau telah menjadi seorang yatim sejak dilahirkan.
Kisah kelahiran Rasulullah SAW juga tidak dapat dilepaskan dari peristiwa Tahun Gajah. Pada masa tersebut, Abraha datang bersama pasukannya menuju Makkah dengan tujuan menghancurkan Ka'bah. Namun, Allah SWT menggagalkan rencana tersebut. Peristiwa ini diabadikan dalam Surah Al-Fil dan menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Setelah lahir, Muhammad kecil kemudian diasuh dan disusui oleh Halimah As-Sa’diyah dari Bani Sa’ad. Masa kecil Rasulullah SAW dipenuhi berbagai ujian. Setelah ibundanya, Aminah binti Wahab, wafat ketika beliau masih kecil, Rasulullah SAW diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Setelah kakeknya wafat, pengasuhan dilanjutkan oleh pamannya, Abu Thalib.

Kepala MIN 1 Kerinci, Hasminiyeti.S, S.Ag., M.Pd, menyampaikan bahwa sejarah kehidupan Rasulullah SAW sangat penting dikenalkan kepada peserta didik karena di dalamnya terdapat banyak nilai pendidikan yang dapat membentuk karakter anak sejak dini.
“Melalui sejarah kehidupan Rasulullah SAW, anak-anak tidak hanya diajak mengetahui kapan dan bagaimana Nabi Muhammad SAW dilahirkan, tetapi juga memahami bagaimana beliau tumbuh melalui berbagai ujian kehidupan. Dari sinilah anak-anak dapat belajar tentang kesabaran, keteguhan hati, kasih sayang, kemandirian, dan keyakinan kepada Allah SWT,” ungkapnya.
Menurutnya, kisah Rasulullah SAW yang telah menjadi yatim sejak lahir memberikan pembelajaran mendalam bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah. Peserta didik harus memiliki semangat untuk terus belajar, memperbaiki diri, serta percaya bahwa setiap kesulitan dapat menjadi jalan menuju kebaikan apabila dihadapi dengan sabar dan sungguh-sungguh.
“Anak-anak harus memahami bahwa keadaan hidup tidak menentukan masa depan seseorang. Rasulullah SAW mengalami berbagai ujian sejak kecil, tetapi beliau tumbuh menjadi pribadi yang paling mulia dan menjadi teladan bagi seluruh umat. Karena itu, jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam belajar ataupun kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Dari rangkaian sejarah tersebut, banyak pelajaran yang dapat ditanamkan kepada siswa MIN 1 Kerinci. Salah satunya adalah sikap sabar dan kuat dalam menghadapi ujian kehidupan. Rasulullah SAW telah menghadapi kehilangan orang-orang terdekat sejak usia yang sangat muda, namun beliau tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, penuh kasih sayang, dan memiliki keteguhan hati.
Pelajaran lainnya adalah pentingnya kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Kisah Halimah As-Sa’diyah, Abdul Muthalib, dan Abu Thalib menunjukkan betapa besar arti perhatian, pengasuhan, dan perlindungan terhadap seorang anak. Nilai tersebut dapat diterapkan siswa dengan saling menghormati, menyayangi teman, membantu mereka yang membutuhkan, tidak melakukan perundungan, serta berbakti kepada orang tua dan guru.
Peristiwa Tahun Gajah juga mengajarkan tentang kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Manusia hendaknya tidak berlaku sombong karena sehebat apa pun kekuatan yang dimiliki, semuanya tetap berada di bawah kehendak Allah SWT. Dari kisah tersebut, siswa dapat belajar untuk selalu bertawakal, rendah hati, serta meningkatkan keimanan.
Kepala Madrasah juga berharap pembelajaran sejarah Rasulullah SAW tidak berhenti pada pengetahuan dan hafalan. Nilai-nilai keteladanan tersebut harus terlihat dalam perilaku peserta didik, baik selama berada di madrasah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat.

“Ketika anak-anak mulai terbiasa berkata jujur, disiplin datang ke madrasah, menghormati guru, berbakti kepada orang tua, membantu teman, sabar menghadapi kesulitan, dan tidak sombong saat berprestasi, maka di situlah pembelajaran tentang Rasulullah SAW telah memberikan makna dalam kehidupan mereka,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya melalui ucapan maupun peringatan Maulid. Kecintaan tersebut perlu dibuktikan dengan usaha meneladani sifat dan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, MIN 1 Kerinci berharap momentum Maulid Nabi dapat menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter peserta didik. Sikap jujur, amanah, sabar, disiplin, rendah hati, rajin belajar, menghormati orang tua dan guru, menyayangi sesama, serta bertanggung jawab menjadi nilai yang terus ditumbuhkan dalam diri siswa.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada akhirnya bukan hanya menjadi kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat keimanan dan membentuk generasi madrasah yang berakhlakul karimah.
Dengan mengenal perjalanan hidup Rasulullah SAW sejak kecil, diharapkan kecintaan siswa MIN 1 Kerinci kepada Nabi Muhammad SAW semakin tumbuh dan tercermin melalui perkataan, sikap, serta perilaku mereka setiap hari.
Mengenal sejarahnya, mencintai Rasulnya, meneladani akhlaknya, dan menghadirkan nilai-nilai kehidupannya dalam perilaku nyata.
|
259x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...